Thursday, September 2, 2021

Menari Bersama Hujan

Melihat hujan di bulan Agustus beberapa tahun lalu mungkin akan menjadi pemandangan yang cukup langka. Kemungkinannya seperti komentarmu di akun Instagram idolamu dibalas oleh idolamu. Tetapi tahun ini berbeda. Ku hitung sejak 23 Agustus kemarin sampai hari ini, 2 September setiap hari diwarnai hujan yang membasahi bumi. Hujan mungkin adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling aku sukai dan kutunggu kehadirannya. Pulang kerja ditemani hujan itu serasa meluruhkan penat setelah seharian bekerja. Sesekali ku lepaskan tangan kiriku dari stang motor, ku julurkan untuk merasakan titik hujan seraya menghirup napas panjang. Aaahhh lega sekali rasanya. Tetapi aku ingin merasakan sepulang kerja berjalan kaki dengan berpayung ria melindungi dari bulir hujan. Tersenyum kecil berjalan dengan langkah ringan sesekali kaki berkecipak memainkan genangan air. Tertawa kecil membayangkan bakwan kampung hangat dan wedang buatan Ibu Negara yang akan kunikmati untuk mengusir dingin sesampainya di rumah. Atau berjalan dalam hujan di kota seperti New York, Paris, London atau Seoul yang sering ku lihat di dalam film-film. Semua orang tampak terburu ingin segera sampai di rumah. Menikmati secangkir susu coklat marshmallow panas dibalik selimut tebal, berkaos kaki dan menonton ulang Serial Friends atau Reply 1988 sambil sesekali menatap hujan di balik jendela kaca besar. Atau tidak melalukan apapun, hanya termangu memandangnya dari balik jendela, melayangkan sejuta imajinasi ke alam pikir. Membayangkannya saja sudah menenangkan, seperti saat ini aku yang sedang tersenyum menuliskan kumpulan kata-kata ini sambil sesekali mencuri pandang ke arah jendela ruangan kantorku menikmati titik-titik hujan yang berebutan sampai ke bumi.


Tuesday, September 8, 2020

REMINISENSI

Bulan ke sembilan hari ke sembilan belas
Di hari ini aku baru tau sebenar-benarnya rindu.
Saat ku datangi taman tempat kita sering bertemu.
Di bawah pohon trembesi tua.
Ku pandangi kursi besi berkarat tempat kita biasa duduk dan bercerita
Tempat ku haturkan eksperimen bekal siangku padamu sebagai kelinci percobaanku
Dengan gaya bagai juri masterchef kau menanggapi masakanku.
Kadang sengaja membuatku gemas sehingga tak ayal mendaratkan cubitan atau pukulan manja ke lenganmu.
Dan kau tertawa renyah penuh kemenangan.

Lalu kau ceritakan harimu, tentang atasan botakmu yang sangat kaku itu juga tentang tingkah polah si kecil, jagoanmu yang selalu berseru menunjukan hal baru setiap kepulanganmu.
Masih ku ingat seorang pengamen jalan berpakaian vintage menyandang gitar. Kau panggil dia menghampiri kita, memintanya memainkan sebuah lagu. Lagu kesenanganku juga kamu.
"Aku tak bisa luluhkan hatimu. Dan aku tak bisa menyentuh cintamu. Seiring jejak kakiku bergetar. Aku tlah terpaku oleh cintamu"
Merdu suara senar menyatu dengan pikiranku. Entah apa yang ada dipikiranmu. Sekilas ku lirik dirimu, ku lihat begitu menghayati alunan melodi itu.

Kursi karat itu membisu. Dingin. 
Sedingin hatiku saat ini.
Ku rapatkan mantelku sambil mengenang masa manis itu.
Aku merindumu. Tak bisakah kau hadir lagi disini walau sejenak menemuiku?

19 September 2018

(9 September 2018 setelah hampir dua tahun ku simpan dalam diary onlineku, ku putuskan untuk bercerita pada dunia tentang tulisanku yang hanya pernah ku tunjukkan pada satu orang saja dan ku putuskan memberi judulnya Reminisensi yang dalam KBBI berarti kenang-kenangan; hal berpikir dan bercerita pengalaman atau kejadian masa lampau; halaman atau ruang dalam sebuah buku yang digunakan untuk membangkitkan ingatan seseorang akan tulisan orang lain; tindakan mengenang; pengenangan)


Gogo

 Aku mempunyai seorang teman yang nama panggilannya Gogo. Mirip merk sebuah minuman kaleng memang. Dan aku lupa siapa nama aslinya. Perawakannya cukup tinggi untuk anak laki-laki kelas satu atau dua sekolah dasar. Gogo lumayan baik padaku. Lumayan disini maksudnya yah dia tidak pernah menjahili aku seperti anak laki-laki yang lain. Nilai tambahnya dia berambut jagung seperti bule. Saat itu yang ada di pikiranku bangga punya teman seorang bule pintar lagi bahasa Indonesia. Belakangan aku tahu setelah belajar Biologi di SMP, ternyata Gogo bukan bule tetapi albino. Seingatanku kami bersekolah bersama hanya sampai kelas dua SD setelah itu dia pindah dan sampai sekarang aku tidak tahu lagi apa kabar Gogo. Begitulah sekelumit cerita teman 'bule'ku bernama Gogo.

25 September 2018

Sebuah Puisi Singkat yang Menguak Seluruh Isi Hati

 

Kisah aku,

Kisah aku tentang sahabat aku yang lahir di negeri orang. Dia hidup hanya dengan keluarganya yang sangat sederhana. Setiap kali ibunya harus menyediakan ayam sebagai lauk, ibunya akan pergi ke pasar dan membelinya. Tapi hanya bagian punggungnya saja. Akhirnya sahabat aku itu pun tumbuh dewasa dengan mengetahui kalau ayam itu hanya punya bagian punggung. Dia tidak pernah tahu kalau bagian ayam ada paha, dada atau sayap. Punggung adalah satu-satunya definisinya tentang ayam.

Kalau aku, aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hanya bisa aku nikmati bayangannya saja tapi tak bisa aku miliki. Seeorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseoang yang hanya bisa kukirimkan isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan.

Tapi sekarang menurutku sahabatku itu adalah yang paling berbahagia. Karena dia bisa menikmati punggung ayam karena hanya itu yang dia tahu. Sementara aku, aku adalah yang paling bersedih. Karena aku tahu apa yang tak bisa aku miliki.

(Al – Rectroverso by Dee Lestari)




Sunday, June 2, 2019

Hujan

Namaku hujan,
Adaku terpancar dari rangkaian harap yg bergulir dari bibir2 mungil bocah2 dekil berbau matahari ketika mereka berkumpul dan ingin menari, tertawa dan berkejaran.

Namaku hujan,
Hadirku selalu diharapkan kala dahaga menyelimuti sawah-sawah hijau yang dibajak petani setiap hari tanpa tau jerih.

Namaku hujan,
Keberadaanku menghiasi romansa dua insan manusia yang dimabuk asmara yang bergandengan dan saling bertatapan penuh kasih sayang.

Namaku hujan,
Dan aku bersedia menyelimutimu jika kau ingin aku menyamarkan bulir airmatamu ketika kau menangis tersedu.

Namaku hujan,
Aku adalah selebrasi Tuhan kepada bumi melalui tangan-tangan malaikat bersayapnya berbentuk titik-titik jernih perlambang rejeki.

Namaku hujan,
Dan apakah aku makna hadirku bagimu?

11 September 2018
_za_


Wednesday, January 2, 2019

Fana

Adakah yang abadi di antara kefanaan?
Apakah itu cinta?
Aku rasa tidak. 
Aku pasti akan mendapat cercaan dari para pencinta jika mengatakan ini. 
Aku akan dianggap makhluk berotak tapi tak berhati.
Aku akan dicap pesimistis asmara karena selalu gagal bercinta.
Tapi aku tetap teguh dengan asumsiku.
Karena aku tau karena ketidakabadian cintaku padanya lah aku bisa berlabuh di cintamu.
Aku tau cintaku padamu fana.
Pertanyaannya apakah penyebab kefanaan itu?
Maut,waktu,hati yang lain atau kita sendiri?
Aaahhh kita lihat saja.
Saat ini aku hanya ingin menikmati cinta ini perlahan. 
Tentang fana itu tak perlu terlalu dirisaukan.

_za_
Pasir Padi, 1 Januari 2019


Thursday, September 13, 2018

Salam Buat Si Gigi Kelinci

Selamat pagi gigi kelinci.
Bagaimana tidurmu malam tadi?
Apakah kau bermimpi tentang ular lagi?
Terbangun dengan napas terengah dan sempat menjerit ngeri.
Atau hanya terbangun memuaskan dahaga,
lalu beranjak kembali memeluk selimut beraroma khas sejak kau bayi,
Dengan sebelumnya lebih dahulu mengoleskan lotion pemutih di tangan dan kaki.

Selamat pagi gigi kelinci.
Aku tak peduli bagaimana mimpimu malam tadi.
Senyummu yang terpenting untuk memulai hari.
Mengawali dengan secangkir kopi dan surat kabar terkini.
Setiap beberapa menit membetulkan letak kacamata di bawah dahi.

Selamat pagi gigi kelinci.
Ku yakin kau siap membelah hari.
Dengan semangat membara terpatri.
Demi kehidupan lebih baik lagi.

Selamat malam gigi kelinci.
Bagaimana jalanmu hari ini?
Ceritakanlah padaku sembari kita menikmati kudapan malam.
Menyeruput wedang panas sambil menatap sinaran gemintang.

Selamat malam gigi kelinci.
Ku berdoa malam ini mimpimu indah.
Berlarian bebas dengan kelinci-kelinci putih,
mengunyah wortel renyah di padang rumput hijau nan subur.
Semoga tak ada lagi mimpi-mimpi yang membuatmu terengah menjerit jengah.
Karena mulai malam ini aku akan menemanimu memelukmu,
meletakkanmu di dada bidangku menciptakan rasa aman untukmu.