Thursday, September 8, 2016

Musoi, Budaya Nongkrong dan Theu Fu Sui di Pangkalpinang


Weekend adalah waktu yang paling ditunggu dalam sepekan. Demikian hari itu aku manfaatkan dengan nongkrong bersama teman. Lama juga nih aku tidak bertemu dengan teman-temanku dan ngobrol bareng mereka. Ditambah lagi ada temanku yang sedang libur kuliah di Bandung pulang. Malam itu setelah berunding dengan mereka akhirnya kami sepakat untuk pergi musoi. Kami rasa cocok untuk malam yang waktu itu dinginnya cukup menggigit dan akhir bulan yang membuat kami sedikit mengencangkan ikat pinggang.
Musoi sebenarnya diistilahkan anak-anak atau orang-orang yang sering nongkrong minum Theu Fu Sui . Theu Fu Sui  adalah minuman yang terbuat dari kacang kedelai atau lebih lazim disebut susu kedelai.Theu Fu Sui  berasal dari bahasa Kek, Theu Fu yang berarti tahu dan Sui yang berarti air. Jadi Theu Fu Sui  secara harafiah bermakna air tahu karena bahan baku utama untuk membuat tahu adalah kacang kedelai.
Theu Fu Sui  terbuat dari kacang kedelai dengan perbandingan 1 kg kacang kedelai untuk 10 liter air atau sesuai dengan kekentalan yang diinginkan. Cara pembuatannya terbilang sederhana, hanya saja memang cukup memakan waktu. Kacang kedelai yang telah dicuci bersih kemudian direndam semalaman. Setelah bulir kacang membesar dan empuk, kacang diblender sampai halus dengan air kemudian disaring. Tahap berikutnya adalah perebusan yang bertujuan untuk menyeterilkan dari kuman, dan mengurangi aroma kedelai yang masih langu. Perebusan dilakukan dengan api sedang sambil terus diaduk agar susu tidak pecah.
Dulu Theu Fu Sui  hanya dijumpai pagi hari yang dijual bersama kue-kue jajanan pasar sebagai sarapan. Tetapi belakangan minuman ini malah lebih banyak dan ramai ditemukan kala malam hari. Peneman bincang-bincang dan penghangat di saat malam dingin. Jadilah Theu Fu Sui  menjadi populer sebagai lokasi jajan dan nongkrong salah pada malam hari.

Para penjual Theu Fu Sui  di pagi hari yang hanya biasanya menjual Theu Fu Sui  dan kue-kue jajanan pasar seperti risoles, ipok-ipok, empek-empek, otak-otak, kroket, nasi uduk, lakso, atau pantiauw yang telah dibungkus cup plastik. Namun pada malam hari suasana diciptakan penjual lebih bersahabat dengan menyediakan bangku-bangku plastik dan meja panjang untuk membuat suasana yang asyik bagi pengunjung untuk bercengkrama bersama teman-teman, kekasih maupun keluarganya.
Ada juga penjual yang pagi hari menyediakan bangku-bangku untuk duduk tetapi tidak sebanyak malam hari. Hal ini mungkin dikarenakan di pagi hari banyak yang mengejar waktu untuk beraktifitas jadi hanya singgah untuk membeli Theu Fu Sui  dan kue-kue kemudian dibungkus untuk dibawa pulang.

Budaya musoi di malam hari ini mulai menjadi trend beberapa tahun belakangan. Saat aku masih sering musoi di tahun 2008-2010 terbilang daerah musoi belum sebanyak sekarang. Di malam hari pusat-pusat musoi bisa dijumpai di seputaran Jalan Pegadaian (depan Bangka Trade Center) dan di seputaran Jalan Linggarjati (tidak jauh dari Alun-Alun Taman Merdeka).
Dengan suasana yang sederhana tetapi santai, musoi ini menjadi alternatif sebagai tempat menghabiskan malam di Pangkalpinang dengan modal kocek pas-pasan. Apalagi di akhir pekan, terutama malam minggu saat yang tepat untuk para pasangan muda “wakuncar” dan para keluarga ber-quality time bersama, jalan-jalan tersebut hiruk pikuk dengan parkiran motor.
Tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk musoi. Dengan membawa Rp. 5.000,- saja anda bisa menikmati Theu Fu Sui  dan kue jajanan pasar. Untuk segelas besar Theu Fu Sui  dibandrol dengan harga Rp. 4.000,- , Rp. 2.000,- untuk gelas kecil serta Rp. 1.000,- - Rp. 2.000,- untuk kue, otak-otak dan makanan kecil lainnya.

Menurut penuturan Ahok salah seorang penjual Theu Fu Sui  langgananku, sampai dengan tahun kemarin, dalam satu malam dia bisa menjual 50 liter Theu Fu Sui. Tetapi sekarang dalam semalam Ahok hanya menjual 40 liter saja. Aku sempat bertanya apakah penyebab turunnya omset Ahok perhari. Apakah karena berdasarkan pengamatanku beberapa tahun terakhir para penjual Theu Fu Sui  semakin marak? Di Jalan Linggarjati beberapa tahun kemarin belum ada yang berjualan dan di Jalan Pegadaian tempat ahok berjualan pun masih sedikit yang berjualan. Menurut penuturan Ahok bukan hal tersebut penyebab turunnya omset tetapi perekonomian Bangka yang sekarang sedikit terguncang yang menyebabkan hal tersebut.
Di sini anda tidak hanya menikmati segelas Theu Fu Sui  tetapi anda akan menikmati keramahan dan keakraban dengan cara yang sederhana. Ahok dan istri dengan cekatan menyajikan segelas Theu Fu Sui  hangat ataupun dingin sesuai dengan permintaan pelanggan-pelanggan setianya. Kadang tanpa diminta, Ahok sudah tahu dan mengerti apa yang diinginkan pelanggannya. Pelanggan yang mana yang suka Theu Fu Sui  panas, dingin, tanpa gula atau sekarang dengan varian baru coklat.

Terkadang di saat suntuk, aku memacu motorku menuju pengkolan trotoar ujung dari daerah depan Jaguar (dahulu di seberang tempat Ahok berjualan ada sebuah night club bernama Jaguar beroperasi, jadi aku dan teman-teman lebih familiar menyebutkan lokasi Ahok berjualan simpang depan jaguar) sekedar untuk musoi melepas suntuk. Walaupun sendiri pelanggan tidak akan merasa kesepian. Ahok dan istrinya selalu dengan ramah dan mengajak mengobrol pelanggannya denganku atau pelanggan yang lain. Dengan topik pembicaraan yang santai tapi tidak membosankan. Topik pembicaraan bisa apa saja. Mulai dari situasi ekonomi, politik, gosip artis atau bahkan tentang pasangan. Keramahan Ahok beserta istri membuat betah untuk duduk berlama-lama sampai menit-menit berlalu hingga tak terasa hingga malam semakin telah larut.

Lom ke Pengkal kalok lom musoi” (belum ke Pangkalpinang kalau belum minum Theu Fu Sui  ) saya rasa tepat untuk menggambarkan trend baru ini. Setiap ada teman-teman yang baru datang ke Bangka selalu kami ajak untuk musoi. Musoi juga dijadikan ajang “gaul’ anak-anak hits (istilah yang dipakai untuk menggambarkan remaja yang mengikuti trend/ gaya hidup yang sekarang sedang populer) Pangkalpinang yang ingin tetap kekinian tetapi dengan modal yang bersahabat dengan kantong anak sekolahan. Vieri, seorang siswa SMA swasta di Pangkalpinang menuturkan bahwa dia dan teman-temannya hampir setiap malam musoi jika tidak banyak tugas dan sedang suntuk di asrama. Mereka sepakat musoi merupakan tempat nongkrong asyik yang enak dan murah meriah. Kesempatan untuk bercengkrama dan terkadang membahas pelajaran di sekolah.
Lain pula halnya dengan Ari dan Eva, sepasang suami istri ini juga pelanggan setia Theu Fu Sui  . Bagi mereka, musoi adalah pilihan sehat karena minuman ini tidak ada penambahan pemanis buatan. Apalagi susu kedelai sangat bagus sebagai salah satu nutrisi untuk ibu hamil seperti Eva. Manfaat lain dari susu kedelai adalah sebagai antioksidan dan juga menjaga keseimbangan berat badan. Jadi untuk anda yang sedang dalam program diet, mengkonsumsi susu kedelai sangat dianjurkan.
Tak terhitung berapa banyak kisah terurai, berapa banyak senyum tercipta dan berapa banyak malam yang aku habiskan bersama teman-temanku di kala musoi. Gelak tawa, ledekan, curhatan yang berakhir dengan senyuman kebahagian selalu mewarnai ajang musoi kami. Membuat tulisan ini seolah membuatku berjalan ke masa lalu, mengamati dan merasakan kembali kepingan-kepingan memori itu.
Jadi ingin menikmati Theu Fu Sui  buatan sendiri atau mencoba untuk musoi itu pilihan anda. Tetapi jika ingin menikmati suasana lain dalam menikmati suasana berbeda sesekali datanglah dan tenggelamlah dalam budaya musoi ini. Nikmatilah suasana malam Pangkalpinang dengan musoi. Yo Kite Ke Pengkal.

#pesonapangkalpinang

Penulis: Roza Mustiana

Fotografer: Roza Mustiana dan Jenggo Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba penulisan tentang PESONA PANGKALPINANG

No comments:

Post a Comment