Weekend adalah waktu yang paling ditunggu dalam sepekan.
Demikian hari itu aku manfaatkan dengan nongkrong bersama teman. Lama juga nih
aku tidak bertemu dengan teman-temanku dan ngobrol bareng mereka. Ditambah lagi
ada temanku yang sedang libur kuliah di Bandung pulang. Malam itu setelah
berunding dengan mereka akhirnya kami sepakat untuk pergi musoi. Kami rasa
cocok untuk malam yang waktu itu dinginnya cukup menggigit dan akhir bulan yang
membuat kami sedikit mengencangkan ikat pinggang.
Musoi sebenarnya diistilahkan anak-anak atau orang-orang yang
sering nongkrong minum Theu Fu Sui . Theu
Fu Sui adalah minuman yang terbuat
dari kacang kedelai atau lebih lazim disebut susu kedelai.Theu Fu Sui berasal dari
bahasa Kek, Theu Fu yang berarti tahu
dan Sui yang berarti air. Jadi Theu Fu Sui secara harafiah bermakna air tahu karena bahan
baku utama untuk membuat tahu adalah kacang kedelai.
Theu Fu Sui terbuat dari kacang kedelai dengan
perbandingan 1 kg kacang kedelai untuk 10 liter air atau sesuai dengan
kekentalan yang diinginkan. Cara pembuatannya terbilang sederhana, hanya saja
memang cukup memakan waktu. Kacang kedelai yang telah dicuci bersih kemudian
direndam semalaman. Setelah bulir kacang membesar dan empuk, kacang diblender
sampai halus dengan air kemudian disaring. Tahap berikutnya adalah perebusan
yang bertujuan untuk menyeterilkan dari kuman, dan mengurangi aroma kedelai
yang masih langu. Perebusan dilakukan dengan api sedang sambil terus diaduk
agar susu tidak pecah.
Dulu Theu Fu Sui hanya dijumpai pagi hari yang dijual bersama
kue-kue jajanan pasar sebagai sarapan. Tetapi belakangan minuman ini malah
lebih banyak dan ramai ditemukan kala malam hari. Peneman bincang-bincang dan
penghangat di saat malam dingin. Jadilah Theu Fu Sui menjadi populer sebagai lokasi jajan dan
nongkrong salah pada malam hari.
Para penjual Theu Fu Sui
di pagi hari yang hanya biasanya menjual
Theu Fu Sui dan kue-kue jajanan pasar seperti risoles,
ipok-ipok, empek-empek, otak-otak, kroket, nasi uduk, lakso, atau pantiauw yang
telah dibungkus cup plastik. Namun pada malam hari suasana diciptakan penjual
lebih bersahabat dengan menyediakan bangku-bangku plastik dan meja panjang
untuk membuat suasana yang asyik bagi pengunjung untuk bercengkrama bersama
teman-teman, kekasih maupun keluarganya.
Ada juga penjual yang pagi hari menyediakan bangku-bangku untuk
duduk tetapi tidak sebanyak malam hari. Hal ini mungkin dikarenakan di pagi
hari banyak yang mengejar waktu untuk beraktifitas jadi hanya singgah untuk
membeli Theu Fu Sui dan kue-kue kemudian dibungkus untuk dibawa
pulang.
Budaya musoi di malam hari ini mulai menjadi trend beberapa
tahun belakangan. Saat aku masih sering musoi di tahun 2008-2010 terbilang
daerah musoi belum sebanyak sekarang. Di malam hari pusat-pusat musoi bisa
dijumpai di seputaran Jalan Pegadaian (depan Bangka Trade Center) dan di
seputaran Jalan Linggarjati (tidak jauh dari Alun-Alun Taman Merdeka).
Dengan suasana yang sederhana tetapi santai, musoi ini menjadi
alternatif sebagai tempat menghabiskan malam di Pangkalpinang dengan modal
kocek pas-pasan. Apalagi di akhir pekan, terutama malam minggu saat yang tepat
untuk para pasangan muda “wakuncar”
dan para keluarga ber-quality time bersama, jalan-jalan tersebut hiruk pikuk
dengan parkiran motor.
Tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk musoi. Dengan
membawa Rp. 5.000,- saja anda bisa menikmati Theu Fu Sui dan kue jajanan
pasar. Untuk segelas besar Theu Fu Sui dibandrol dengan harga Rp. 4.000,- , Rp.
2.000,- untuk gelas kecil serta Rp. 1.000,- - Rp. 2.000,- untuk kue, otak-otak
dan makanan kecil lainnya.
Menurut penuturan Ahok salah seorang penjual Theu Fu Sui langgananku, sampai dengan tahun kemarin,
dalam satu malam dia bisa menjual 50 liter Theu
Fu Sui. Tetapi sekarang dalam semalam Ahok hanya menjual 40 liter saja. Aku
sempat bertanya apakah penyebab turunnya omset Ahok perhari. Apakah karena
berdasarkan pengamatanku beberapa tahun terakhir para penjual Theu Fu Sui semakin marak? Di Jalan Linggarjati beberapa
tahun kemarin belum ada yang berjualan dan di Jalan Pegadaian tempat ahok
berjualan pun masih sedikit yang berjualan. Menurut penuturan Ahok bukan hal
tersebut penyebab turunnya omset tetapi perekonomian Bangka yang sekarang sedikit
terguncang yang menyebabkan hal tersebut.
Di sini anda tidak hanya menikmati segelas Theu Fu Sui tetapi anda akan
menikmati keramahan dan keakraban dengan cara yang sederhana. Ahok dan istri
dengan cekatan menyajikan segelas Theu Fu
Sui hangat ataupun dingin sesuai
dengan permintaan pelanggan-pelanggan setianya. Kadang tanpa diminta, Ahok
sudah tahu dan mengerti apa yang diinginkan pelanggannya. Pelanggan yang mana
yang suka Theu Fu Sui panas, dingin, tanpa gula atau sekarang
dengan varian baru coklat.
Terkadang di saat suntuk, aku memacu motorku menuju pengkolan
trotoar ujung dari daerah depan Jaguar (dahulu di seberang tempat Ahok
berjualan ada sebuah night club bernama Jaguar beroperasi, jadi aku dan teman-teman
lebih familiar menyebutkan lokasi Ahok berjualan simpang depan jaguar) sekedar
untuk musoi melepas suntuk. Walaupun sendiri pelanggan tidak akan merasa
kesepian. Ahok dan istrinya selalu dengan ramah dan mengajak mengobrol
pelanggannya denganku atau pelanggan yang lain. Dengan topik pembicaraan yang
santai tapi tidak membosankan. Topik pembicaraan bisa apa saja. Mulai dari
situasi ekonomi, politik, gosip artis atau bahkan tentang pasangan. Keramahan
Ahok beserta istri membuat betah untuk duduk berlama-lama sampai menit-menit
berlalu hingga tak terasa hingga malam semakin telah larut.
“Lom ke Pengkal kalok lom
musoi” (belum ke Pangkalpinang kalau belum minum Theu Fu Sui ) saya rasa
tepat untuk menggambarkan trend baru ini. Setiap ada teman-teman yang baru
datang ke Bangka selalu kami ajak untuk musoi. Musoi juga dijadikan ajang
“gaul’ anak-anak hits (istilah yang dipakai untuk menggambarkan remaja yang
mengikuti trend/ gaya hidup yang sekarang sedang populer) Pangkalpinang yang
ingin tetap kekinian tetapi dengan modal yang bersahabat dengan kantong anak
sekolahan. Vieri, seorang siswa SMA swasta di Pangkalpinang menuturkan bahwa
dia dan teman-temannya hampir setiap malam musoi jika tidak banyak tugas dan
sedang suntuk di asrama. Mereka sepakat musoi merupakan tempat nongkrong asyik
yang enak dan murah meriah. Kesempatan untuk bercengkrama dan terkadang
membahas pelajaran di sekolah.
Lain pula halnya dengan Ari dan Eva, sepasang
suami istri ini juga pelanggan setia Theu Fu Sui . Bagi mereka,
musoi adalah pilihan sehat karena minuman ini tidak ada penambahan pemanis
buatan. Apalagi susu kedelai sangat bagus sebagai salah satu nutrisi untuk ibu
hamil seperti Eva. Manfaat lain dari susu kedelai adalah sebagai antioksidan
dan juga menjaga keseimbangan berat badan. Jadi untuk anda yang sedang dalam program
diet, mengkonsumsi susu kedelai sangat dianjurkan.
Tak terhitung berapa banyak kisah terurai, berapa banyak senyum tercipta dan berapa banyak malam yang aku habiskan bersama teman-temanku di kala musoi. Gelak tawa, ledekan, curhatan yang berakhir dengan senyuman kebahagian selalu mewarnai ajang musoi kami. Membuat tulisan ini seolah membuatku berjalan ke masa lalu, mengamati dan merasakan kembali kepingan-kepingan memori itu.
Jadi ingin menikmati Theu
Fu Sui buatan sendiri atau mencoba
untuk musoi itu pilihan anda. Tetapi jika ingin menikmati suasana lain dalam
menikmati suasana berbeda sesekali datanglah dan tenggelamlah dalam budaya
musoi ini. Nikmatilah suasana malam Pangkalpinang dengan musoi. Yo Kite Ke
Pengkal.
#pesonapangkalpinang
Penulis:
Roza Mustiana
Fotografer:
Roza Mustiana dan Jenggo Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba penulisan
tentang PESONA PANGKALPINANG



No comments:
Post a Comment